Anak Rimba, The Jungle Book
Judul buku : The Jungle Book
Pengarang : Rudyard Kipling
Penerjemah : Djokolelono
Halaman : 221
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Berulang-ulang nonton film The Jungle Book, menyukai jalan ceritanya, membuat gue ingin membaca bukunya. Dan setelah gue baca, ternyata cerita di novel dan film punya versi masing-masing.
Saat pertama membaca, kita akan diperkenalkan dengan saudara-saudara Mowgli. Serigala ayah dan serigala bunda melindunginya dari Shere Khan, harimau pemangsa. Ia kemudian diangkat anak oleh kawanan serigala yang dipimpin Akela dan diajari hukum rimba. Tentu saja tak lepas dari peran Baloo—guru hukum rimba—seekor beruang coklat yang ingin mempertahankannya, serta Bagheera si macan kumbang yang menebusnya dengan seekor lembu jantan gemuk, sebagai harga dia boleh tinggal dan menjadi anggota kelompok serigala seeonee. Dari sini kita sudah melihat perbedaan dengan di film (gue anggap pembaca sudah nonton).
Perbedaan lainnya yang tampak adalah ketika Mowgli diculik oleh kaum Bandar-log. Kaum Bandar-log adalah sekumpulan monyet yang paling dijauhi, tak ada binatang lain yang suka bergaul dengan mereka, Bandar-log tak punya malu dan sangat bebas, mereka hidup seenaknya tak punya aturan karena tak ada pemimpin. Berbalik dengan cerita dalam film, bahwa Bandar-log dipimpin oleh seekor monyet yang sangat besar.
Saat aksi penyelamatan, Bagheera dan Baloo datang bersama Kaa, si ular piton batu karang. Dalam film, ular besar itu sempat ingin menyantap Mowgli saat menceritakan kisah Mowgli kecil. Sedangkan cerita di bukunya, Kaa adalah pahlawan. Dia mungkin tokoh jahat, tapi dia membantu Bagheera dan Baloo untuk menolong Mowgli dari Bandar-log.
Bagian cerita lainnya yang ingin gue soroti adalah, akhir dari kisah Mowgli. Ketika nonton film, gue lihat Mowgli menghabisi Shere Khan dengan—cara manusianya—bunga api. Namun cerita dalam buku sangat berbeda dengan film. Di buku bahkan disebutkan bahwa Mowgli sempat kembali ke tanah kelahirannya. Dia cerdas mampu belajar cepat bahasa manusia, bergaul dengan penduduk desa, menemukan rumah, dan menjadi penggembala kerbau.
Berada di antara manusia, Mowgli mengenal si tua Buldeo, pemburu desa yang suka membual. Ketika menggembala kerbau, dia masih sering bertemu saudara serigalanya dan menyusun rencana untuk menjebak Shere Khan. Ketika Mowgli berhasil dengan rencananya membunuh Shere Khan, Buldeo tidak menyukai itu. Di desa, dia bercerita penuh dengan bumbu sihir serta keajaiban sehingga penduduk desa mengusir anak itu. Mowgli akhirnya kembali ke hutan dengan membawa kulit Shere Khan dan meletakkannya di batu datar tempat Akela biasa duduk (Akela tidak dibunuh Shere Khan seperti dalam cerita film).
Dalam The Jungle Book, tidak hanya cerita petualangan Mowgli dan sahabat-sahabatnya, ada juga beberapa cerita pendek lain.
Seperti kisah Kotick si singa laut putih, yang berjuang mencari tempat tinggal terbaik untuk bangsanya agar terbebas dari penjagalan manusia.
Ada pula cerita Rikki-Tikki-Tavi, si garangan muda pemberani yang melawan ular kobra besar demi menolong keluarga kecil yang memberinya tempat tinggal.
Ada Toomai kecil, anak keturunan pawang gajah yang melihat gajah menari—hal yang belum pernah dilihat manusia.
Dan terakhir cerita Para Abdi yang Mulia Raja, bagaimana kekompakan para hewan untuk parade. Mereka adalah contoh yang baik untuk patuh pada pemimpin.
Pada bagian akhir ini—gue membacanya sambil ngantuk—jadi gagal faham karena kurang fokus. Tapi, ceritanya bagus dengan mengangkat topik sederhana. Semua kisah dalam buku ini adalah fabel yang menggabungkan mitos, petualangan, dan moral. Juga persahabatan antara manusia dengan hewan. Yang jelas, banyak yang bisa kita ambil pelajaran dari kisah klasik ini.

Comments
Post a Comment