Dilan: dia adalah dilanku tahun 1990
Judul buku : DILAN, dia adalah Dilanku tahun 1990
Pengarang : Pidi Baiq
Halaman : 332
Penerbit : Pastel Books, Mizan
Aku nggak tertarik dengan novel ini, awalnya. Bahkan waktu booming tahun lalu juga aku nggak berpikir mau membacanya. Tapi ketika belakangan ini media sosial sering membandingkan Dilan dengan seorang tokoh sejarawan muslim, Muhammad Al Fatih, akhirnya aku sedikit penasaran. Emang seberapa hebatnya sih, Dilan, tokoh fiksi ini hingga disandingkan dengan Al Fatih oleh netizen?
Ya, sebenarnya untuk melihat karakter Dilan kita bisa aja menonton filmnya. Tapi aku memilih novelnya. Karena kebanyakan film yang diangkat dari novel ceritanya kurang natural, pasti ada bagian yang berbeda. Bisa banyak, bisa juga sedikit. Jadi, aku ingin memahami watak Dilan dari penulisnya langsung.
Novel ini ditulis dari sudut pandang seorang gadis SMA, Milea Adnan Hussain namanya. Milea bercerita tentang dirinya, keluarga, teman, orang-orang di sekitarnya, dan tentang Dilan. Ini seperti diari nostalgia Milea, bahasanya sederhana dan mengalir. Walaupun ini kisah lama—karena latar waktunya tahun 1990, sedangkan ini tahun 2019—yah, 29 tahun lalu aku bahkan belum lahir. Kupikir ini seperti kisah klasik membosankan, tapi nyatanya aku tetap bisa menikmati.
Ceritanya bikin baper, dengan Dilan yang humoris dan tak terduga. Cara dia memperlakukan Milea itu lho.... sederhana, namun keren. Ah, kau akan tahu jika membacanya sendiri, atau menontonnya mungkin (aku belum nonton filmnya saat menulis ini). Tapi membayangkan menjadi Milea memang istimewa, perlakuan Dilan yang tak biasa pasti membuat kebanyakan perempuan merasa sangat dicintai.
Jika Dilan tidak begitu, bagaimana mungkin filmnya bisa digandrungi remaja zaman now? Dilan memiliki kemampuan untuk membuat Milea bisa merasa senang dan benar-benar berakhir dengan tertawa. Kau tahulah, dunia SMA penuh dengan cinta monyet. Novel ini bisa jadi kisah manis dan membuatmu mengenang masa-masa SMA.
Dilan memang terkesan anak nakal. Dia hanya anak SMA biasa yang sedang jatuh cinta. Dilan tidak seperti Anhar, sama-sama anak geng motor, tapi Dilan cerdas dan selalu mendapat rangking di sekolah. Dilan tidak seperti Beni yang kasar terhadap perempuan, tidak sabaran, egois dan emosian.
Dibanding mereka, Dilan jelas lebih baik. Dia selalu menghargai orang-orang, tetapi itu tidak berlaku ketika orang itu berbuat di luar batasannya. Itulah kekurangan Dilan. Dia marah jika ada yang menyakiti orang yang disayanginya. Dia bisa mengamuk, jika orang berbuat kasar. Selebihnya tidak ada yang salah dengan Dilan, dia sopan dan respect.
Aku berusaha objektif memandang netizen yang sepertinya suka mempermasalahkan Dilan-nya Milea ini. Aku tak yakin mereka sudah membaca novel ini. Mungkin yang mereka lihat hanya quotes romantis atau potongan-potongan singkat dari film Dilan. Tentang pacaran, tentang berantem, geng motor, memukul guru, tanpa menelusuri alasannya. Parahnya lagi kebanyakan hanya ikut-ikutan share ini itu tanpa tahu kebenarannya.
Aku tidak berusaha membela Dilan, tapi rasanya terlalu jauh membandingkan Dilan dengan Muhammad Al Fatih. Tentu saja tidak se-level, Dilan jauh di bawahnya. Ini hanya novel ringan, tokoh fiktif pula. Sesederhana itu. Menyandingkan kedua tokoh ini jelas-jelas tidak sepadan. Antara nyata dan fiksi, kisah sejarah dan karangan.
Bagaimanapun, Dilan ini sudah dicap negatif oleh beberapa kalangan. Namun apapun itu, selalu ada pelajaran yang bisa kita ambil. Aku setuju dengan kata-kata bundanya Dilan: “Ya, kita tidak bisa mengkritik tanpa lebih dulu memahami apa yang kita kritik itu. Termasuk kita tidak bisa menghakimi anak remaja tanpa kita memahami kehidupannya.”
Pemahaman ini bisa jadi acuan buat orang tua, terlebih guru sekarang ini untuk menghadapi anak nakal. Bukankah kisah Dilan itu cukup relevan dengan kelakuan anak zaman now? Bahkan mungkin lebih parah. Apa salahnya saat membaca novel atau menonton film Dilan kita ambil saja hal-hal positifnya?
Bukan salah Dilan jika anak muda sekarang lebih mengenal tokoh-tokoh fiksi dibanding tokoh sejarah. Lebih hafal lagu-lagu barat daripada lirik shalawat. Lebih suka main hape ketimbang ngaji. Harusnya kita berkaca, sudahkah kita mengimbangi kecanggihan teknologi dengan pengamalan agama kita? Sudahkah orangtua membiasakan dan mendidik anaknya untuk bersikap benar? Sudahkah para guru mengenalkan tokoh-tokoh hebat itu dengan muridnya? Sudah berhasilkah mengajar dan membimbing mereka?

Comments
Post a Comment