Negeri di Ujung Tanduk


Judul buku : Negeri di Ujung Tanduk
Pengarang  : Tere Liye
Halaman     : 360
Penerbit      : PT Gramedia Pustaka Utama

Membaca novel lanjutan dari Negeri Para Bedebah adalah pilihan tepat. Negeri di Ujung Tanduk merupakan jawaban dari prasangka gue sebelumnya. Jika cerita kemarin lebih banyak membahas keuangan, kali ini kita dihadapkan dengan masalah politik.

Inilah babak baru dalam cerita Thomas, lepas dari isu keuangan global, kembali masuk ke pusaran intrik politik yang bahkan lebih berbahaya. Masih dengan tokoh utama yang selalu mampu ‘memanage’ waktu, super sibuk, dan tipe cowok pendendam. Ketika hari yang tenang dalam kapal pesiar berubah menjadi badai, maka dimulai lagi petualangan hebat Thomas. Dua hari menuju kemenangan.

Novel ini berlatar antar-negara, mengambil tempat di Makau, Hongkong, dan Indonesia. Jarak waktunya satu tahun setelah Negeri Para Bedebah, di sini Thomas tengah masuk ke dunia politik. Beberapa kasus agak mirip dengan pola novel sebelumnya, sehingga kadang membuat gue ngerasa déjà vu. Kisahnya tetap saling berkait, dan tentu saja konfliknya juga lebih seru.

Tema politik menjadi menarik di tangan Tere Liye. Gue suka dengan konsep yang diangkat dalam novel ini, karena itulah yang sedang terjadi sekarang. Kita tahu kebanyakan yang terjun ke dunia politik punya tujuan sama, memperebutkan kursi. Sungguh tidak ada teman abadi dalam bisnis ini. Sudah jadi konsumsi publik, kadang partai ini dan itu bersatu karena punya kepentingan, siapapun bisa jadi kawan dan kemudian jadi lawan jika tujuan sudah berbeda. Dan bisa kita lihat, perang politik di media sosial saat ini sudah terlalu parah, tagar ganti presiden, hoax di mana-mana. Zaman sekarang, jejaring sosial adalah masa depan politik. Kuasai dunia maya, maka menaklukkan dunia nyata lebih mudah.

Rakyat seakan tidak sadar, selama ini hanya dijadikan alat bagi para bedebah yang menamakan diri mereka pemimpin, politikus. Sebenarnya rakyatlah pemilik partai politik. Tanpa rakyat, tanpa pendukung apa jadinya sebuah partai? Mereka—yang mengaku pemimpin—hanya ongkang-ongkang kaki menikmati jerih payah rakyat, tidak merasakan kepanasan-kehujanan. Kader partai rendahan yang paling sibuk dan kecapaian mengurus partai, kampanye, pasang baliho, dan sebagainya. Padahal modal para bedebah itu hanya omong kosong.

Sungguh konyol orang-orang yang menjadi musuh hanya karena beda pilihan politik. Betapa mudahnya terhasut, terbawa emosi, hingga saling benci lalu mencaci. Maka benarlah, politik itu tidak lebih dari permainan terbesar dalam bisnis omong kosong. Sebagaimana sebuah bisnis omong kosong dijalankan, kita harus berdiri di atas ribuan omong kosong agar omong kosong tersebut menjadi sesuatu yang bisa dijual dengan manis, dan dibeli dengan larisnya oleh para pemilih.

Seperti di novel sebelumnya, gue dengan mudah memahami penjelasan penulis. Bagaimana gambaran demokrasi yang sederhana, bahwa demokrasi tak selalu menghasilkan yang terbaik. Demokrasi juga bukan untuk orang-orang bodoh, apalagi orang berkepentingan. Dan gue jadi tahu, kalau politik moralitas pencitraan itu penting untuk menghasilkan omong kosong.

Membaca novel ini membuat gue semakin kagum dengan sosok Thomas yang dihadirkan Tere Liye. Seorang konsultan profesional yang brilian dengan kemampuan berbicara yang mumpuni. Juga ide tentang mafia hukum itu, mengerikan sekali seandainya mafia hukum menguasai dunia ini. Takkan ada penegakan hukum. Padahal penegakan hukum adalah obat paling mujarab mendidik masyarakat yang rusak, apatis, dan tidak peduli. Jika hukum benar-benar ditegakkan, banyak masalah bisa selesai dengan sendirinya.

Ada banyak sekali pelajaran dan kata-kata bagus dalam novel ini. Kau tahu, seperti biasa khasnya Tere Liye. Penjelasan selalu datang dari orang yang tepat dan waktu yang tepat. Bacalah, maka kau akan mengerti kenapa gue memberi empat bintang untuk kisah ini. Masih di negeri para bedebah, masih bersama para petarung sejati, masih seperti film aksi, dan masih dengan nasihat berharga dari Opa.

Comments

Popular posts from this blog

Anak Rimba, The Jungle Book

Dilan: dia adalah dilanku tahun 1990