Dunia Kafka: novel menakjubkan tentang cinta, tragedi, dan pergulatan hidup


Judul buku  : DUNIA KAFKA
Judul asli     : Kafka on the Shore
Pengarang   : Haruki Murakami
Penerjemah : Th. Dewi Wulansari
Halaman      : 606
Penerbit       : PT Pustaka Alvabet

Dunia Kafka membuat gue tenggelam dalam nuansa yang entah bagaimana ya... Sulit dijelaskan karena gue gak punya kata-kata yang pas buat mengomentari kisah ini. Gue cukup salut sama penulisnya, Haruki Murakami, dengan gayanya yang wah... Gimana gitu, menurut gue cerita ini agak rumit.

Memang rumit. Ketika pertama membaca, gue malah bingung. Apa hubungannya Kafka dengan berbagai wawancara dan kejadian-kejadian aneh itu? Dan siapa pula bocah bernama gagak yang sering muncul tiba-tiba? Satu sisi juga membosankan. Kadang gue ingin berhenti membaca, tapi entah kenapa ada sedikit penasaran. Jadi gue terusin.

Bosan sih, tapi semakin ke sini alur cerita semakin jelas dan gue mulai bisa menikmati. Rasanya ketika masuk bab 20-an barulah gue sedikit paham. Entah karena kurang fokus atau apa, mungkin gue aja yang lamban. 'Saya tidak terlalu pandai'—meminjam istilah Nakata yang lucu. Bukan lucu dalam arti melawak sih, kau akan tahu sendiri jika membacanya.

Gue sering menertawakan sikap Nakata dan Hoshino. Padahal cuma percakapan ringan, garing, tapi mampu membuat pembaca geleng-geleng kepala. Gue gak habis pikir kalau ada orang seperti Nakata di dunia ini. Terlalu baik, terlalu lugu, terlalu pasrah, dan tidak-terlalu-pandai. Benar-benar nggak ada beban.

Di samping itu kisah Kafka lebih seperti pencarian jati diri atau apalah, gue gak bisa jelasin dengan baik. Ketegangan dan imajinasinya lumayan, bagaimana seorang anak berumur 15 tahun yang sedang dalam pelarian. Di beberapa bagian, Murakami tidak canggung menyebutkan hal-hal vulgar. Tidak, ini bukan novel erotis atau romantis, tetapi cukup berani, seperti tokohnya—dan tentu saja penulisnya.

Banyak sekali hal yang nggak gue ketahui, tentang kisah-kisah klasik, puisi, filsafat, bahkan musik... Dialognya kerap membuat gue mengernyitkan dahi, sekaligus iri tentang luasnya pengetahuan para tokoh. Ketika menyimak percakapan Oshima dan Kafka, gue merasa ada pesan tersirat penulis bahwa, seseorang dianggap terpelajar bukan karena pendidikannya atau berapa lama dia sekolah. Lebih dari itu, sikaplah yang membuat seseorang menjadi terpelajar.

Novel ini sederhana namun rumit dengan caranya sendiri. Beberapa penjelasan terlalu ‘tinggi’ sehingga tidak bisa dibilang novel ringan. Penuh kiasan, menggabungkan fantasi, klasik, filosofis, mungkin juga thriller, dan petualangan. Oh, karya yang cukup memukau jika kau ingin membacanya.

Comments

Popular posts from this blog

Anak Rimba, The Jungle Book

Dilan: dia adalah dilanku tahun 1990

Negeri di Ujung Tanduk