Negeri Para Bedebah


Judul buku : Negeri Para Bedebah
Pengarang  : Tere Liye
Halaman     : 440
Penerbit      : PT Gramedia Pustaka Utama

Melihat cetakan di sampul depan—Negeri Para Bedebah—banyak yang mengira kalau ini tuh novel politik. Sebenarnya gue nggak terlalu suka tentang politik, tetapi gue penasaran karena ini karya Tere Liye. Selama ini novel Tere Liye yang gue baca belum pernah mengecewakan. Jadi apa salahnya, apalagi ini tahun politik sedang panas-panasnya.

Dan setelah membaca beberapa lembar... Gue kurang suka, terasa hambar, sempet mandeg dua hari. Ya, bagian awalnya kurang menarik—menurut gue sih. Tetapi balik ke alasan awal gue baca, karena ini karya Tere Liye akhirnya gue lanjutin. Dan benar saja, perlahan tapi pasti gue mulai terbawa arus novel ini dari halaman 50-an. Semakin jauh membaca gue semakin menikmati isi cerita.

Seperti judulnya, ini adalah kisah para bedebah di suatu negeri. Dengan tokoh utama yang licin, cerdik, juga beruntung. Meskipun sering terjebak situasi, tetapi selalu ada jalan, ada bantuan, tanpa diduga. Entah dari siapa dan seperti apa itu. Hal biasa yang disukai banyak pembaca, yaitu ketika tokohnya ‘selamat’.

Menampilkan watak yang ambisius dengan dendam membara, ditemani oleh seorang wartawan cantik. Gue masih ingat lakon mereka macam telenovela, Esmeralda dan Fernando. Laiknya film laga aksi, mulai menyenangkan mengikuti alurnya. Kau tahu, untuk membuat seru cerita dari tokoh yang cerdas dan berkuasa, tidak harus dibumbui cerita roman merangsang. Cukup dengan percakapan ringan, santai, dan gaya khas seorang Tere Liye.

Negeri Para Bedebah mengambil alur flashback maju-mundur. Setting waktu novel ini hanya berkisar 2-3 hari. Benar-benar pengalaman singkat nan menakjubkan. Tokoh aku seakan tak pernah lelah demi mencapai target. Diselingi kisah-kisah masa lalu yang penuh pembelajaran. Ide dan solusi dari pengalaman Opa, perhitungan tepat waktu, dan hal-hal tak terduga, membuat ceritanya semakin menarik.

Awalnya gue sangka ini novel politik kan, tetapi nyatanya tak banyak politik yang dibahas. Lebih banyak pembahasan ekonomi, mungkin bagaimana cara kau ‘mengatur’ uang. Lebih tentang bagaimana uang bisa mengendalikan semuanya di negeri para bedebah. Para polisi dan petugas keamanan tak lebih dari sekadar kacung para penguasa berduit.

Lebih dari itu, novel ini tetap bisa dinikmati walaupun banyak kata-kata asing dan istilah ekonomi. Khususnya gue, jadi tahu seluk-beluk dan cara kerja bank. Selama ini gue hanya tahu kalau hukum bunga itu riba dalam Islam, sekarang gue sedikit mengerti alasannya. Gue kagum, pengetahuan penulis lumayan mengenai hal ini. Wajar sih, mengingat Tere Liye pernah mengenyam pendidikan di fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.

Terlepas dari kisah masa lalu opa yang penuh makna, ada beberapa hal yang bisa gue tangkap dari novel ini.
  • Meski kau bosan mendengar ceritanya, tetaplah hormati orang tua. Selalu ada pelajaran dari pengalaman mereka.
  • Jangan terpaku pada orang-orang penting, mereka tidak akan benar-benar penting jika tidak ada yang menganggap mereka penting.
  • Jangan melihat orang dari tampilannya saja. Kita takkan pernah tahu isi hati dan pikiran seseorang.
  • Sayangi orang-orang di sekitar kita, bantulah mereka, terlebih keluarga. Karena mereka yang paling peduli dengan kita.
  • Banyak sekali musang berbulu domba di antara kita. Percayai diri sendiri lebih dari siapapun.
  • Petarung sejati tidak akan pernah berkhianat. Tidak masalah menjadi bedebah selama kau tepat janji.
  • Perhitungkan baik-baik setiap langkah yang kau ambil, seperti saat kau bermain catur.
Dan masih banyak lagi. Tapi gue rasa cukup sampai di sini, butuh waktu jika harus membolak-balik kembali buku ini dan mengumpulkan semua poin berharga bukan? Kenapa tidak kau saja yang membacanya sendiri?

Comments

Popular posts from this blog

Anak Rimba, The Jungle Book

Dilan: dia adalah dilanku tahun 1990

Negeri di Ujung Tanduk