A Man Called Ove


Judul buku   : A Man Called Ove
Pengarang    : Fredrik Backman
Penerjemah : Ingrid Nimpoeno
Halaman       : 448
Penerbit        : Noura Books

Aku bersumpah! Ini bukan novel favorite-ku, tapi lelaki bernama Ove berhasil membuat emosiku campur aduk, kadang tertawa, lalu menangis.

Ove muda seorang anak bawang. Namun dia mempunyai ayah hebat yang mengajarinya hidup dan keteguhan hati.

Ove tak biasa bicara banyak. Dia bukan jenis orang yang suka mengadukan perbuatan orang lain meski orang itu jahat kepadanya.

Ove memang malang. Sendirian dan kesepian. Menjadi yatim piatu di usia muda. Tapi dia jujur, tangguh dan pekerja keras.

Ove memang tidak punya teman. Seseorang yang dianggapnya teman bahkan menipunya. Tapi dia menerobos kobaran api demi menolong tetangga yang tak dikenalnya.

Ove memang menjengkelkan. Hanya sedikit orang yang mau peduli dengannya. Sebenarnya, dia hanya pribadi yang lurus lagi tegas.

Ove memang pelit—eh mungkin kau bisa bilang ‘perhitungan’ saat mengeluarkan uang. Tapi dia apa adanya. Ove punya prinsip yang kuat dan terus dipegangnya.

Ove memang suka menendang. Kasar. Dia membenci ketidakadilan di dunia ini. Membenci orang-orang dengan kemeja putih yang sok berkuasa tapi tak berperasaan itu.

Ove memang lelaki kaku. Tapi dia juga jatuh cinta. Ove memiliki kisah cinta yang indah, bersama Sonja, wanita pertama dan terakhirnya, yang memberinya warna-warni hidup.

Ove memang tidak ramah. Tapi dia sangat mencintai istrinya. Sikap yang harus dimiliki semua suami. Ove dan Sonja beruntung saling memiliki, mereka saling melengkapi.

Ove memang suka mendendam. Tapi dia suami yang baik. Merawat dan menjaga Sonja dalam keadaan terburuk sekalipun. Tak kenal menyerah memperjuangkan orang yang disayanginya.

Ove memang agak kuno. Apalah daya lelaki tua yang hidup sendiri di zaman yang semakin modern. Tapi Ove punya cinta yang besar untuk Sonja. Tak pernah lekang oleh waktu.

Ove memang terlihat kuat. Sejujurnya dia kesepian, dia lelah hidup sendirian tanpa Sonja. Dia kuat. Tidak pernah sakit, tapi dia tidak benar-benar sehat.

Ove memang lelaki aneh. Dia tidak menyukai seseorang hanya karena mobil mereka. Tapi dia lelaki setia, mencintai satu wanita, bahkan menetap dengan satu jenis mobil.

Ove memang unik. Banyak yang tidak menyukainya dan menganggapnya orang tua gila. Tapi dia sangat teliti dan taat aturan, selalu menjaga lingkungannya agar berjalan semestinya.

Ove memang orang tua pemarah. Tapi dia memiliki hati yang besar. Dibanding kekurangannya yang keras kepala itu, ada lebih banyak kebaikan di dalam dirinya.

Ove memang gaptek. Tapi dia mampu bekerja manual dengan hebat. Dia memiliki kualitas seorang lelaki sejati, figur kakek yang baik, dia juga lucu.

Ove mungkin ingin mati. Berbagai rencana dipikirkan, berbagai cara telah dilakukan. Kegagalan bunuh diri itu tanpa disadari ternyata membuatnya lebih peka. Hidupnya mungkin berhenti sejak Sonja pergi, tapi dia peduli, dan bisa menjadi berguna bagi banyak orang.

Comments

Popular posts from this blog

Anak Rimba, The Jungle Book

Dilan: dia adalah dilanku tahun 1990

Negeri di Ujung Tanduk