Crazy Rich Asians: kaya tujuh turunan


Judul buku  : Crazy Rich Asians - Kaya Tujuh Turunan (Crazy Rich Asians #1)
Pengarang   : Kevin Kwan
Penerjemah : Cindy Kristanto
Halaman      : 480
Penerbit       : PT Gramedia Pustaka Utama

Saat membaca lembar-lembar pertama novel ini, aku semakin yakin bahwa kebanyakan orang memang menilai orang lain hanya dari luarnya. Di bagian prolog diceritakan para anggota keluarga Young yang diremehkan karena keadaannya terlihat lusuh, padahal mereka super kaya. Penampilan memang sangat memengaruhi pandangan seseorang, kau tahu yang dilihat pertama akan memberi kesan.

Seseorang dipandang karena dia kaya, dikagumi karena cantik, dipuja-puja karena jabatan, padahal lebih dari itu yang paling penting dari manusia adalah attitude. Lucu sekali, hanya butuh sedikit waktu untuk membuat seorang yang pongah berubah jadi penjilat. Tunjukkan uangmu, jalanmu menjadi mulus. Tunjukkan hartamu, kau akan disukai. Tunjukkan wilayahmu, pasti kau disegani.

Melihat cara hidup keluarga Young, selalu ada yang kusuka dan tidak. Hidup sederhana memang bagus, tidak menyombongkan diri dengan kekayaan luar biasa yang mereka miliki. Namun kurasa mereka juga bisa dibilang pelit dalam beberapa hal, meski agak boros untuk hal lainnya. Bagiku tidak masalah memakai uang untuk menikmati hidup, asalkan kau tahu batasannya.

Dan baru kali ini pula aku menemukan istilah “lebih kaya daripada Tuhan”. Tentu saja itu berlebihan, dalam kepercayaanku Tuhan mencipta dan memiliki jagat raya dan seluruh isinya, termasuk keluarga Young—seandainya novel ini bukan fiksi. Yeah, kalimat ini hanya untuk menggambarkan betapa kayanya mereka. Seperti kata Ibn Batuta, ‘Tiada tempat di dunia ini dapat ditemukan orang-orang yang lebih kaya daripada orang Cina’.

Sedikit banyak aku jadi tahu tentang orang-orang Cina ini. Mereka terbagi ke dalam dua kelompok yaitu Cina Peranakan dan Cina Daratan. Cina Daratan kerap dianggap remeh, tidak lebih dihormati dibanding Cina Peranakan yang merupakan kalangan atas dan berpendidikan Inggris. Jadi kalau kaulihat negara-negara di Asia Tenggara, kau akan menemui bahwa hampir semua perdagangan dikendalikan oleh kaum Cina Peranakan.

Tokoh utama novel ini adalah pasangan kekasih Nicholas Young dan Rachel Chu. Mereka berdua dosen muda keturunan Cina yang bekerja di New York. Ini tentang bagaimana Rachel mendapatkan kejutan ketika masuk ke dunia Nick yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Dan perbedaan itu kemudian membuka celah di antara keduanya.

Ada cerita Astrid Leong, sepupu Nick yang mengalami masalah dalam rumah tangganya. Aku kagum dengan pembawaan Astrid yang mampu tetap tenang meski di bawah tekanan. Ada juga Eleanor Young, ibu Nick yang bersikap tidak bijaksana. Dia hanya menilai dari apa yang didengar. Dia memutuskan sendiri tanpa bersikap objektif. Selain itu latar umum kisah ini berpusat pada Colin Khoo dan Araminta Lee yang mengadakan pesta pernikahan paling mewah se-Asia di Singapura.

Secara bergantian novel ini menceritakan hubungan Nick dan Rachel, orang tua, sepupu, teman-teman mereka, keluarga besar, kerabat yang tidak hanya dari keluarga Young, juga ada keluarga Shang, T’sien, Cheng, Leong, dan banyak lagi.

Menurutku novel ini lumayan bagus. Perbedaan kasta yang melingkupi kisah asmara memang lumrah terjadi di berbagai belahan dunia, namun penyampaian dari penulis tetap menarik. Juga menambah wawasan tentang orang-orang Cina, aku sekarang jadi tahu kenapa banyak sekali orang Cina di negeri kita. Sungguh aneh bukan, kenapa baru sekarang (2019) orang pribumi meributkan ini? Padahal Cina Peranakan sejak abad ke-15 dan ke-16 mereka sudah tersebar dan menetap di berbagai wilayah di Asia Tenggara.

Comments

Popular posts from this blog

Anak Rimba, The Jungle Book

Dilan: dia adalah dilanku tahun 1990

Negeri di Ujung Tanduk