Dilan 2: dia adalah dilanku tahun 1991
Judul buku : Dilan Bagian Kedua, dia adalah Dilanku tahun 1991
Pengarang : Pidi Baiq
Halaman : 344
Penerbit : Pastel Books, Mizan
Membaca novel Dilan bagian kedua ini membuatku geregetan dengan sosok Dilan. Jika di buku pertama Dilan sangat menyenangkan, maka di buku kedua ini dia benar-benar jadi anak nakal dan susah diatur.
Mungkin aku juga akan bersikap seperti Milea seandainya aku punya pacar seperti Dilan. Dan sejujurnya aku nggak suka dengan ending-nya. Disaat mereka harus putus, Dilan malah menjauh.
Pokoknya aku sebel sama Dilan di novel ini. Benar, lelaki memang tidak suka dikekang. Tapi apa dia harus bersikap begitu? Mana kata-katanya yang dia bilang suka Milea? Cinta Milea? Sayang Milea? Nyatanya, dia tak mau mempertahankan hubungan.
Aku tak tahu bagaimana hati seorang lelaki. Tapi aku kesal dengan sikap Dilan yang seperti itu. Entah apa yang ada di benak Dilan? Hanya penulis yang tahu.
Yeah, aku sangat paham susahnya move on. Butuh waktu lama untuk sembuh, begitu juga Milea. Aku belum tahu perasaan Dilan yang sesungguhnya di buku kedua ini. Bagaimanapun, itu cukup membuatku kesal dengan keputusannya.
Hidup begitu misterius. Kita tidak akan pernah benar-benar mengerti mengapa kenyataannya harus berakhir seperti itu. Tapi kita harus bisa menerimanya sebagai sebuah kenyataan.
Dan yang kemudian bisa kita lakukan adalah, mengambil pelajaran dari banyak hal yang sudah kita alami itu, untuk mulai melanjutkan kehidupan menuju yang lebih baik. Bahkan meskipun tidak harus saling memiliki, tetapi masih bisa saling mendukung.
Kita merasa sedih untuk apa yang hilang, tapi selalu ada pelajaran yang bisa kita dapat dari situ. Masa lalu bukan untuk diperdebatkan. Itu sudah bagus. Biarkan saja menjadi kenangan. Memangnya, kita bisa apa lagi?

Comments
Post a Comment