Milea: suara dari dilan
Judul buku : Milea, Suara dari Dilan
Pengarang : Pidi Baiq
Halaman : 360
Penerbit : Pastel Books, Mizan
Entah kenapa setelah membaca novel ini, aku jadi agak sebel dengan Milea. Ternyata dia nggak beda dengan Dilan, sama-sama egois. Padahal akutuh udah bersimpatik sama dia di buku kedua itu. Ya, ini jadi pelajaran agar kita jangan berpihak pada salah satu sebelum tahu duduk persoalannya. Tapi bukan berarti aku jadi ngedukung Dilan.
Jika di buku ‘Dia adalah Dilanku’ berbicara dari sudut pandang Milea, bahkan dia tampak menderita di bagian kedua. Maka bagian ketiga ini adalah ‘Suara Dilan’. Di sini, aku mencoba memahami dari sisi Dilan. Sedikit banyak aku jadi tahu yang sebenarnya, ini seperti klarifikasi atau koreksi untuk beberapa bagian yang kurang tepat. Juga tambahan, karena tidak semua hal diceritakan Milea.
Novel ini ditulis dari kacamata Dilan yang mengacu pada ‘dua buku Milea’ sebelumnya. Kita bisa mengetahui bagaimana perasaan Dilan, mengenal lebih dekat keluarga, kawan-kawannya, dan pemikiran Dilan sendiri.
Menurut Dilan, geng motornya biasa saja, tidak ‘berbahaya’ seperti yang dikatakan Milea di dalam buku itu. Dilan juga mengaku tidak menempatkan perkelahian sebagai hal yang penting, hanya melakukan perlawanan jika diserang. Dan ketika ditahan polisi, dia tidak benar-benar berantem seperti dugaan Milea.
Ini hanya tentang persahabatan. Sebelum bertemu Milea, Dilan sudah akrab dengan kawan-kawannya. Saling mendukung, belajar, dan mendapat pengalaman-pengalaman nyata. Dilan yang disukai Milea tak lepas dari tempaan orang-orang terdekatnya, yang membuatnya menjadi dirinya sekarang.
Buat Dilan, kawan-kawannya adalah barometer yang bisa membantunya menjalani kehidupan sebagai seorang remaja. Tapi kukira itu memang pendapat umum seorang makhluk sosial yang hidup di muka bumi. Dan jangan bodoh dengan berpikir pasanganmu tidak boleh bergaul dengan yang lain dan hanya boleh dengan dirimu.
Maksudku, apa kau pernah merasa cemburu ketika sahabat dekatmu sudah punya pacar, lalu dia tidak punya waktu untukmu? Ini semacam kecemburuan dalam persahabatan yang dirasakan kawan-kawannya ketika Dilan berpacaran dengan Milea.
Siapapun mungkin tak ada yang suka dikontrol. Apalagi seorang lelaki, dia punya ego tinggi, suka kebebasan, dan akan merasa kesal ketika pasangannya selalu mendiktenya, berbicara tentang hal buruk yang tidak boleh dilakukan, atau mengatakan apa-apa yang baik yang harus diikuti.
Kau tahu, memiliki pasangan posesif mungkin bagus juga, kita merasa aman dan merasa dicintai. Namun normalnya hubungan di dalam hidup, tidak hanya melulu dengan pasangan, tetapi juga hubungan dengan masyarakat. Hal yang tidak bijak jika kita mengisolasi pasangan dari lingkup kebiasaannya.
Bagi Dilan, menjauhi kawan-kawannya adalah sebuah langkah yang salah, terutama karena menghancurkan persahabatan. Milea bersikap egois dengan tidak mau mencoba mengenal lebih jauh teman-teman Dilan. Misalnya ketika dia menganggap Burhan atau Anhar itu buruk, maka dia tetap dengan pemikirannya.
Untuk masalah ini, aku kagum dengan Dilan. Meski Milea pacarnya, dia merasa tidak punya hak untuk mengontrol dengan siapa Milea bicara atau dengan siapa dia berteman. Dilan tidak ingin bersikap berkuasa atas diri Milea. Sebaliknya, Milea ngambeg ketika melihat Dilan berbicara dengan Susi.
Dan, ternyata sikap Milea mendiamkan Dilan itu salah. Aku baru sadar jika perasaan Dilan sangat buruk ketika sahabatnya Akew meninggal. Tapi Milea malah menjauhinya, padahal saat itu Dilan butuh teman, butuh hiburan dan dukungan emosional. Dengan marahnya Milea, itu membuat keadaan Dilan semakin terpuruk.
Sikap Milea yang mengabaikannya membuat Dilan menjadi dekat kembali dengan kawan-kawannya, yang menerimanya dalam keadaan apapun. Kemudian Dilan bersikap sama, selalu menghindari Milea. Akhirnya kerenggangan hubungan keduanya menciptakan berbagai spekulasi dan praduga hingga tidak ada kontak apapun lagi diantara mereka.
Dan yang disesali adalah ketika waktu terus berlalu hingga sampai di masa kini, ketika keduanya telah memiliki pengganti. Barulah titik terang itu muncul ke permukaan, menjelaskan setiap kesalahpahaman masing-masing. Mereka menyadari, tapi semuanya sudah terlambat.
Masa lalu adalah masa lalu, tak usah menghindari atau menolak. Masa lalu akan menjadi penasihat yang baik, tidak ada gunanya disesali. Biarlah itu hadir sebagai aliran yang akan membawa kita pergi ke tujuan yang lebih baik. Terimalah kenyataan, dan terus hidup dengan melakukan apa yang benar dan menyenangkan.
Apapun yang kita rasakan; kecewa, benci, marah, kesal, sesal, semuanya bukan apa yang kita harapkan, tapi itu adalah kenyataan. Yang harus dilakukan sekarang adalah bagaimana caranya kita tetap akan baik-baik saja setelah itu. Melepaskan semua energi negatif dalam diri kita. Tentu saja, menerimanya dengan ikhlas, akan menjadi lebih penting daripada semuanya.

Comments
Post a Comment