To Kill A Mockingbird
Judul buku : To Kill a Mockingbird
Pengarang : Harper Lee
Penerjemah : Femmy Syahrani
Halaman : 396
Penerbit : Qanita, Mizan Publishing
Sebenarnya agak sulit bagiku untuk menjelaskan isi buku ini. Cukup rumit, dan terlalu banyak tokoh yang kuingat. Novel ini mengagumkan dengan gaya bercerita yang cerdas dari seorang anak polos bernama Scout—kau bisa memanggilnya Jean Louis. Scout punya kakak yang empat tahun lebih tua darinya, Jeremy Atticus Finch—dipanggil Jem. Hidup bersama ayah mereka—seorang pengacara di Maycomb County, dan juga koki mereka, Calpurnia.
Atticus Finch, ayah mereka adalah pria paruh baya yang sederhana, orang tua tunggal—ibu mereka sudah meninggal saat Scout berusia dua tahun. Atticus berusaha membesarkan Jem dan Scout dengan sangat baik, penuh kasih sayang dan bijaksana. Banyak sekali pelajaran yang patut kita contoh dari cara Atticus mendidik mereka.
Secara garis besar, To Kill a Mockingbird menceritakan tentang keadilan yang berlaku antara orang kulit hitam dan kulit putih. Rupanya hal ini begitu kentara di masa itu, sehingga sangat mempengaruhi bagaimana mereka dipandang dan diperlakukan. Perbedaan inilah yang melatarbelakangi kisah Scout dan Jem di novel ini.
Alur ceritanya flashback sekitar tiga tahun ke belakang sebelum kecelakaan Jem. Diawali dengan kilas sejarah Maycomb County, lalu tetangga mereka, teman-teman, serta beberapa keluarga dan kerabat di lingkungan tersebut. Kisahnya memang dikemukakan oleh Scout—dari sudut pandang seorang gadis kecil—tapi kurasa perlu pemahaman lebih ketika membacanya.
Scout bercerita awal pertemuannya dengan Dill—Charles Baker Harris, yang kemudian menyebutnya sebagai tunangan dan katanya mereka akan menikah suatu saat kalau sudah besar. Dill memberi gagasan untuk memancing keluar Boo Radley—penghuni Radley Place yang konon sudah puluhan tahun tidak menampakkan dirinya. Berbagai gosip mencekam tentang Radley Place dan Boo membuat anak-anak takut bahkan sekadar melewati tempat itu.
Menanggapi hal ini, kata Atticus, saat seseorang memilih ‘gaya hidup’ yang berbeda, kita tidak berhak mencampuri urusannya. Mungkin aneh bagi kita, tapi tak seharusnya kita mengusik mereka. Sangat tidak sopan apabila kita memaksa orang untuk keluar dari sarangnya, apalagi dengan cara usil dari anak-anak yang ingin tahu. Kita sendiri tentu tidak akan suka apabila ada orang yang tiba-tiba masuk begitu saja tanpa mengetuk ke kamar kita.
Atticus mengajari anak-anaknya untuk menghargai orang lain. Entah Cal—pembantu mereka, orang kulit hitam atau putih, tetangga mereka seperti; Miss Maudie Atkinson, Miss Rachel, Mr. Avery, Mrs. Henry Lafayette Dubose, Miss Stephanie Crawford, dan siapapun dia, bagaimana keadaannya, Scout dan Jem wajib bersikap baik dengan semua orang.
Atticus mengharuskan anak-anaknya untuk hormat pada orang tua. Seperti saat Jem diminta bertanggung jawab atas sikapnya kepada Mrs. Dubose, apapun yang telah dilakukan perempuan tua itu. Walaupun mereka juga salah, kita tetap harus menghormati mereka. Atau ketika Scout diminta untuk meminta maaf pada Bibi Alexandra ketika dia berbicara tidak sopan.
Bibi Alexandra adalah adik Atticus, dia sangat berbeda pandangan dengannya dan selalu berusaha bersikap terhormat. Dia akan mengusahakan semua hal berjalan semestinya, seperti bagaimana Scout harus bersikap atau berpakaian. Bibi juga suka menunjukkan keunggulan keluarga Finch—bahkan kerap menyinggung kelemahan keluarga lain.
Ada Paman Jack, saudara Atticus lainnya. Dia seorang dokter yang tidak pernah bersikap seperti dokter—dalam artian, tidak membuat anak-anak takut padanya. Relativitas, kata Scout. Paman Jack sebaik Atticus, dia menyuruh anak-anak untuk menjaga ucapan, tidak menyumpah, atau mengejek. Dia juga mau mendengarkan ketika Scout mengajarinya cara memperlakukan anak-anak ketika mereka bertengkar: bersikap adil.
Diceritakan pula Keluarga Cunningham, mereka dikenal tidak pernah mengambil apapun yang tidak akan bisa mereka kembalikan—keranjang sumbangan gereja ataupun kupon makanan. Mereka tidak pernah mengambil apapun dari siapapun, mereka merasa tercukupi dengan apa yang mereka punya. Mereka tidak punya banyak, tapi mereka mencukupkannya.
Selain itu ada juga Keluarga Ewell, mereka menjadi aib bagi Maycomb selama bergenerasi-generasi, tak ada satupun anggota keluarga itu yang pernah bekerja dengan benar. Anak-anak mereka datang pada hari pertama sekolah setiap tahun, lalu pergi. Dan tidak pernah hadir lagi selama sisa tahun. Tidak ada alasan yang membuat anak-anak Ewell tetap bersekolah.
Bagus sekali novel ini dibaca, banyak hal baik di dalamnya. Seperti Miss Maudie yang tidak mengeluh ketika mendapat musibah—kita memang harus menerima keadaan karena selalu ada kebaikan dalam segala hal. Atau Atticus yang mampu tetap tenang dan bersikap profesional apapun keadaannya. Kita belajar agar tidak merasa diri hebat, sebab orang yang berakal sehat tak pernah berbangga dengan bakatnya. Juga untuk memandang sama semua orang.
Memasuki inti cerita, dikisahkan bagaimana Atticus berusaha membela Tom Robinson—seorang nigger. Lalu banyak sekali pihak yang mengecamnya, anak-anaknya pun tak luput menjadi sasaran. Di sini mereka diuji, Jem yang beranjak dewasa, dan Scout yang mudah marah. Atticus bilang, apapun yang orang katakan, jangan dimasukkan ke hati. Sepahit apapun situasinya, mereka masih teman kita, dan kita tidak boleh membenci siapapun.
Atticus mengajarkan untuk tidak memikirkan perkataan buruk orang, dia menjalani pekerjaannya dengan tulus. Tugasnya untuk membela yang tidak bersalah, maka dia harus melakukannya. Apapun resikonya, dia seorang pengacara. Ketika mendapat julukan ‘pencinta nigger’, dia tetap menghormati semua orang. Mereka berhak berpikir begitu, katanya, kasus ini menyangkut hakikat nurani manusia. Satu hal yang tidak tunduk pada mayoritas adalah nurani seseorang.
Atticus adalah pria yang baik, seorang ayah penyayang. Dia mengajari anak-anaknya dengan cinta, betapapun Scout kadang marah padanya, dia akan kembali ke pelukan Atticus secepat yang dia bisa. Tak ada tempat paling nyaman dan tenang selain di sana. Atticus mampu menjelaskan segala hal secara sederhana dengan bahasa yang pantas, hingga mudah dimengerti anak-anak.
Dia menyikapi kenakalan mereka dengan cara yang benar. Anak memang sering bandel, tapi orang tua tidak harus bersikap kasar. Selama ini Atticus cukup berhasil dengan bicara terbuka dan mengarahkan, tidak perlu pakai omongan kasar atau pukulan. Beritahu dengan baik, anak-anak akan belajar. Jika dipercaya, mereka akan menepati janji, mereka akan mencoba tidak mengecewakan. Scout paham, dan dia berusaha menjaga perasaan ayahnya.
Aku kagum dengan sosok Atticus yang bersahaja. Saat Scout dan Jem mendapat senapan angin, tidak pernah dia menyombongkan kemampuannya sebagai penembak jitu. Dia bilang, “Aku lebih suka kau menembaki kaleng timah di halaman belakang, tetapi aku tahu kau akan memburu burung. Kau boleh menembak burung bluejay sebanyak yang kau mau, kalau bisa kena, tetapi ingat, membunuh mockingbird—sejenis murai bersuara merdu—itu dosa.”
Menurutku, Tom Robinson ibarat mockingbird dalam cerita ini—burung yang menyanyikan musik untuk dinikmati, hanya itulah yang dilakukan. Mereka tidak memakan tanaman di kebun orang, tidak bersarang di gudang jagung, mereka tidak melakukan apapun, kecuali menyanyi dengan tulus untuk semua orang. Karena itulah, bagi Atticus membiarkan kasus ini tanpa menolong Tom sama seperti dosa.
Atticus berusaha agar anak-anaknya tidak terjangkiti penyakit Maycomb. Orang-orang yang merasa pandai mudah naik pitam jika ada kejadian melibatkan seorang Negro, mereka akan memihak si kulit putih meski dia bersalah dan menutup mata untuk si kulit hitam. Ini sungguh bertentangan dengan hak asasi manusia, dipandang rendah karena berbeda warna kulit. Bahkan pengadilan yang semestinya menjadi tempat untuk seseorang mendapatkan keadilan tidak mampu bertindak adil.
Ada jutaan manusia dengan beragam watak dan karakter juga fisik yang berbeda, orang cenderung akan berkumpul karena kesamaan di antara mereka. Seharusnya perbedaan itu membuat persaudaraan, bukan malah mencerai-beraikan karena menganggap suatu kelompok lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lainnya. Semua manusia sama di mata Tuhan, semuanya berhak untuk kehidupan yang layak dan diakui oleh manusia lainnya.
Mengapa orang dianggap berbeda hanya karena latar belakang dan kekayaan mereka? Siapapun dia, sekaya apapun dia, atau sebaik apapun keluarga asalnya, kata Atticus, tak ada yang lebih memuakkan daripada orang kulit putih bermutu rendah yang memanfaatkan keluguan seorang Negro. Ironis, suatu negara yang menganut demokrasi—hak yang sama untuk semua, hak istimewa tidak untuk seorang pun—malah menindas sesama manusia. Yeah, aku memang tidak pernah paham manusia.
Mengutip tulisan Harper Lee dalam novel ini, “Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya... hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.” Ini tentu menyadarkan kita agar tidak mudah men-judge orang lain. Prasangka memang seringkali membutakan manusia. Apa yang terjadi pada mereka, kita tak pernah benar-benar tahu.
Jadi, kalau kita mempelajari satu keterampilan sederhana, kita bisa bergaul lebih baik dengan berbagai jenis orang. Kita baru bisa memahami seseorang kalau kita sudah memandang suatu situasi dari sudut pandangnya. Kita tak akan pernah mengenal seseorang sampai kita berada dalam posisinya dan mencoba menjalani hidupnya.

Comments
Post a Comment